Jumat, 22 Juni 2012

Drama Malam


Drama Malam

I

malaikat malam bermain air di telaga mimpi
mengarungi tepi tepi garis horizon kenyataan
tanpa jabat tangan dan selalu bercanda menertawai
redup manis senyuman

dan dalam ngarai yang kau lihat itu
jasadku menyalakan arwah yang mati suri dalam lara
hanya bertanya dan selalu begitu ketika pagi menjelang dengan terik matari

akankah?
bunda, hanya meminta angin untuk turun meniupi pedih dan luka
hanya meminta rintik barang setetes saja
hanya untuk melukiskan kembali kemesraan yang hilang jauh disapu badai saat tidur lelap
dan mimpi mimpi selalu digerayangi malaikat malam yang bermain air di telaganya
bercanda dan menertawai harap asa kecil berbunyi

tolong lihatlah
jasadku menyalakan arwah yang terkapar suri kala harap hanya akan berbunyi kecil
ketika riuh begitu gemuruh dalam terik matari yang menjelang
aku tak akan menerjang
sungguh aku hanya mampu untuk diam

hanya mampu untuk diam menunggu
malaikat malam untuk tidak hanya bermain air di telaga mimpi
dan manis senyummu adalah kenyataan yang akan ku candai
walau setetes saja

akankah?

medan
Rabu 21 April 2010
01.08


II

Apa akan pagi
matari oh engkau sungguh

di antara langit biru itu selalu membahana lagu yang begitu pekat mengalunkan rasa kasmaran
di antara gugus-gugus awan nan begitu putih riak kapas cumbu mesra dengan angin
aku hanya tengadah tanpa rasa akan kehidupan depan

oh engkau begitu sungguh matari
saat ini samar ku rasa ada tetes begitu rupa akan sebuah canda cinta dalam kendi yang jatuh kosong
saat ini begitu ku genggam akankah hilang?
saat ini adalah saat bibir-bibir asmara bertemu untuk berpagut-taut dalam rongga-rongga nafas

ruang rindu yang begitu sempit

Apa akan pagi
Apa akan benar pagi
Apa akan henti malam ini

sungguh aku tak kan sungkan untuk keluar menghambur dirimu di pintu gerbang hati
menjemput engkau ketika tanganmu benar terulur iring langkah kita menari masuk rasa jiwaku

bukan saat malam ketika mimpi bertahta dalam lubuk-lubuk khayalan
bukan saat malam ketika desir itu begitu menumbangkan
memejamkan mata sedemikian rupa agar aku dapat mencumbu dalam gelap mimpi yang entah kenapa

selalu lebih indah

oh engkau matari
matariku di terik nan biru
matariku dalam gugus-gugus awan riak putih kapas

jika ruang rindu melebar
dan kenyataan menjadi sangat lebih indah dari gelap mimpi
saat itu bibir-bibir asmara bertemu untuk berpagut-taut dalam rongga-rongga nafas

benar akan pagi


medan
May, 13 2010
01.02

III

Aku akan merayap menyusuri belantara malam
di tepi bebatuan yang menghadap rembulan geming tanpa senyum sungging
meraba-raba asmara engkau yang benar terasa kala mimpi bermain imaji dengan khayalan

apa kau akan merasa sedih?
tidak perlu
tidak usah, tidak perlu

telah bertahun ku susuri malam dengan merayap mencari haribaan Dewi Cinta
entah ia tidak bertahta kala matari bersabung mega terang
telah bertahun sungging rembulan sungguh tiada
hanya geming
dan pandangan yang tidak hangat, melulu begitu

asmara engkau hanya terasa kala mimpi bercinta dengan khayalku
hanya ketika segala kemayaan bersetubuh haram tepat di tepi-tepi kenyataan
entah hingga bila

Aku akan merayap menyusuri belantara malam
meraba-raba asmara engkau yang benar terasa kala mimpi bermain imaji dengan khayalan
tidak usah kau akan merasa sedih

tidak usah, tidak perlu
sungguh sangat tidak perlu

karena Dewi Cinta sungguh tidak akan pernah bertahta kala matari tiba
tidak akan pernah…


medan
16 Mei 2010
01.05


IV

tenanglah rembulanku
di sini hanya akan ada sunyi, aku dan engkau
para gemintang juga akan pergi

dan bercumbu kita pada malam-malam akan datang

tidak ada siapa
tidak ada dia pun engkau juga mereka

tenanglah, karena hanya rembulan dan diriku
di balik selimut sunyi

hanya rembulan dan aku


medan
May, 16 2010
23.56


V

di malam ini…
para Kirana turun ke tanah ku berdiri
kita begitu

kau begitu
tidak ada birahi menggoda melulu
di matamu, aku menahan nafasku untuk kau minum penuh dahaga
di matamu, ku tancapkan segala kelemahanku tepat di pundak yang mungil itu

di malam ini
aku melihat rombongan Kirana menyanyikan lagu cinta untuk kita

hanya untuk kita
kau begitu, aku begitu
tidak melulu menelan birahi yang menggoda melulu

sungguh, kita saling cinta
sangat saling cinta

medan
May, 18 2010
01.05



VI

jadilah angin, maka di malam ini jadilah ia
jadilah awan, maka di mayapada itu jadilah ia

seperti itu akan ku arak engkau menuju singgasana mu
di siang hari
karena malamku adalah kesepian
adalah keheningan
tetap begitu

jadilah matari, maka di angkasa itu ia

seperti itu akan selamanya
selalu untuk keabadian kesunyian hening malam
tak tersentuh
tak tergugah
tak akan menjadi berbeda

jadilah diriku, maka menjelma ia
maka cinta tertaut bukan pada nyatanya
seperti itu akan selamanya
tak akan menjadi berbeda


medan
may, 20 2010
22.22






VII

aku menatap tujuh ribu malam lewat
sepi dan sendiri
sedih hanya milik diriku yang terikat dengan duka lara yang panjang tanpa ujung kesudahan

hanya menatap tujuh ribu malam lewat tanpa purnama
tanpa secercak gemintang kecil
tanpa matari yang terbit kala fajarnya coba menyingsing

aku hanya menatap
bahkan tak mampu untuk menunggu
hanya menatap

medan
June 2, 2010
02.53






VIII

Sunyi
dan sendiri
kala malam selepas hujan sore hari

Sunyi
bincang redup para jangkrik beradu dalam irama
dan bau tanah menyeruak penuh kerinduan

Sunyi
apakah engkau pahami?




medan
June 17, 2010
00.47


Tidak ada komentar:

Posting Komentar