Drama Malam
I
malaikat
malam bermain air di telaga mimpi
mengarungi
tepi tepi garis horizon kenyataan
tanpa
jabat tangan dan selalu bercanda menertawai
redup
manis senyuman
dan
dalam ngarai yang kau lihat itu
jasadku
menyalakan arwah yang mati suri dalam lara
hanya
bertanya dan selalu begitu ketika pagi menjelang dengan terik matari
akankah?
bunda,
hanya meminta angin untuk turun meniupi pedih dan luka
hanya
meminta rintik barang setetes saja
hanya
untuk melukiskan kembali kemesraan yang hilang jauh disapu badai saat tidur
lelap
dan
mimpi mimpi selalu digerayangi malaikat malam yang bermain air di telaganya
bercanda
dan menertawai harap asa kecil berbunyi
tolong
lihatlah
jasadku
menyalakan arwah yang terkapar suri kala harap hanya akan berbunyi kecil
ketika
riuh begitu gemuruh dalam terik matari yang menjelang
aku
tak akan menerjang
sungguh
aku hanya mampu untuk diam
hanya
mampu untuk diam menunggu
malaikat
malam untuk tidak hanya bermain air di telaga mimpi
dan
manis senyummu adalah kenyataan yang akan ku candai
walau
setetes saja
akankah?
medan
Rabu
21 April 2010
01.08
II
Apa
akan pagi
matari
oh engkau sungguh
di
antara langit biru itu selalu membahana lagu yang begitu pekat mengalunkan rasa
kasmaran
di
antara gugus-gugus awan nan begitu putih riak kapas cumbu mesra dengan angin
aku
hanya tengadah tanpa rasa akan kehidupan depan
oh
engkau begitu sungguh matari
saat
ini samar ku rasa ada tetes begitu rupa akan sebuah canda cinta dalam kendi
yang jatuh kosong
saat
ini begitu ku genggam akankah hilang?
saat
ini adalah saat bibir-bibir asmara
bertemu untuk berpagut-taut dalam rongga-rongga nafas
ruang
rindu yang begitu sempit
Apa
akan pagi
Apa
akan benar pagi
Apa
akan henti malam ini
sungguh
aku tak kan
sungkan untuk keluar menghambur dirimu di pintu gerbang hati
menjemput
engkau ketika tanganmu benar terulur iring langkah kita menari masuk rasa
jiwaku
bukan
saat malam ketika mimpi bertahta dalam lubuk-lubuk khayalan
bukan
saat malam ketika desir itu begitu menumbangkan
memejamkan
mata sedemikian rupa agar aku dapat mencumbu dalam gelap mimpi yang entah
kenapa
selalu
lebih indah
oh
engkau matari
matariku
di terik nan biru
matariku
dalam gugus-gugus awan riak putih kapas
jika
ruang rindu melebar
dan
kenyataan menjadi sangat lebih indah dari gelap mimpi
saat
itu bibir-bibir asmara
bertemu untuk berpagut-taut dalam rongga-rongga nafas
benar
akan pagi
medan
May,
13 2010
01.02
III
Aku
akan merayap menyusuri belantara malam
di
tepi bebatuan yang menghadap rembulan geming tanpa senyum sungging
meraba-raba
asmara engkau
yang benar terasa kala mimpi bermain imaji dengan khayalan
apa
kau akan merasa sedih?
tidak
perlu
tidak
usah, tidak perlu
telah
bertahun ku susuri malam dengan merayap mencari haribaan Dewi Cinta
entah
ia tidak bertahta kala matari bersabung mega terang
telah
bertahun sungging rembulan sungguh tiada
hanya
geming
dan
pandangan yang tidak hangat, melulu begitu
asmara engkau hanya terasa kala mimpi
bercinta dengan khayalku
hanya
ketika segala kemayaan bersetubuh haram tepat di tepi-tepi kenyataan
entah
hingga bila
Aku
akan merayap menyusuri belantara malam
meraba-raba
asmara engkau
yang benar terasa kala mimpi bermain imaji dengan khayalan
tidak
usah kau akan merasa sedih
tidak
usah, tidak perlu
sungguh
sangat tidak perlu
karena
Dewi Cinta sungguh tidak akan pernah bertahta kala matari tiba
tidak
akan pernah…
medan
16
Mei 2010
01.05
IV
tenanglah
rembulanku
di
sini hanya akan ada sunyi, aku dan engkau
para
gemintang juga akan pergi
dan
bercumbu kita pada malam-malam akan datang
tidak
ada siapa
tidak
ada dia pun engkau juga mereka
tenanglah,
karena hanya rembulan dan diriku
di
balik selimut sunyi
hanya
rembulan dan aku
medan
May,
16 2010
23.56
V
di
malam ini…
para
Kirana turun ke tanah ku berdiri
kita
begitu
kau
begitu
tidak
ada birahi menggoda melulu
di
matamu, aku menahan nafasku untuk kau minum penuh dahaga
di
matamu, ku tancapkan segala kelemahanku tepat di pundak yang mungil itu
di
malam ini
aku
melihat rombongan Kirana menyanyikan lagu cinta untuk kita
hanya
untuk kita
kau
begitu, aku begitu
tidak
melulu menelan birahi yang menggoda melulu
sungguh,
kita saling cinta
sangat
saling cinta
medan
May,
18 2010
01.05
VI
jadilah
angin, maka di malam ini jadilah ia
jadilah
awan, maka di mayapada itu jadilah ia
seperti
itu akan ku arak engkau menuju singgasana mu
di
siang hari
karena
malamku adalah kesepian
adalah
keheningan
tetap
begitu
jadilah
matari, maka di angkasa itu ia
seperti
itu akan selamanya
selalu
untuk keabadian kesunyian hening malam
tak
tersentuh
tak
tergugah
tak
akan menjadi berbeda
jadilah
diriku, maka menjelma ia
maka
cinta tertaut bukan pada nyatanya
seperti
itu akan selamanya
tak
akan menjadi berbeda
medan
may,
20 2010
22.22
VII
aku
menatap tujuh ribu malam lewat
sepi
dan sendiri
sedih
hanya milik diriku yang terikat dengan duka lara yang panjang tanpa ujung
kesudahan
hanya
menatap tujuh ribu malam lewat tanpa purnama
tanpa
secercak gemintang kecil
tanpa
matari yang terbit kala fajarnya coba menyingsing
aku
hanya menatap
bahkan
tak mampu untuk menunggu
hanya
menatap
medan
June
2, 2010
02.53
VIII
Sunyi
dan
sendiri
kala
malam selepas hujan sore hari
Sunyi
bincang
redup para jangkrik beradu dalam irama
dan
bau tanah menyeruak penuh kerinduan
Sunyi
apakah
engkau pahami?
medan
June 17,
2010
00.47
Tidak ada komentar:
Posting Komentar