Jumat, 22 Juni 2012

Kecupan Bidadari


KECUPAN BIDADARI

I


Manja matamu yang menatap dengan dua bola mata bening
merupakan buah karya dewi cinta yang agung
saat redup matari menyanyi sedih di permukaan bumi hijau tanpa noda
dan menepati janji
pada genta berbunyi lirih akan kemerduan hati meramu hidup
janji-janji matang para dewasa yang bergumam akan asmara

akankah selalu
karena ikrar semu menanti irama kerinduan akan nyata yang beradu
dan selalu mimpi ini yang menemani hari dengan rasa
bergema sendu

dan senyum para bidadari
berbibir lembut

Aku menunggu akan sambut


June 17, 2010
00.43





II

Sangat menginginkan, mengingat masa buang jauh
raga ini menanti sentuh

dan engkau bidadari yang lari antara nisan-nisan ingatan yang tegak menentang rembulan
meramu serpihan hati tak sempurna
menjahit luka pada dinding istana kusam

aku menyambut engkau dengan simpuh pada tanah merah basah yang kekar
aku menyembah dirimu pada matari yang menggelegakkan ubun-ubun

raga ini menanti jenuh

sangat menantikan, mengingat irama hati berkelakar jingga
pada dirimu hanya dan selalu

aku menunggu engkau dalam penantian sendu mayang mengikat duka
aku harap dirimu berlabuh pada pantai asmara yang hanya rindang pada gelombang pasang

aku menanti engkau yang berlari di antara nisan ingatan yang tegak menentang rembulan
sembari meramu serpihan hati yang sangat tak sempurna
menjahit luka-luka pada dinding istana kusam

aku menanti tanpa jenuh akan sentuh
maka
sentuhlah dengan penuh seluruh



June 22, 2010
00.04




III

saat tetesnya tiba menyentuh lembut
jemari yang hangat
menyeluruh ragaku yang begitu ingin akan rasa yang kau bawa

aku menatap engkau yang tiba dengan gelombang asmara yang memabukkan
tubuh yang lunglai, aroma tubuhmu adalah aneka rasa yang aku terima dari nirwana
dan ketika benar kecupan itu mendarat pada hatiku

dan saat pejam mataku adalah kala engkau begitu merengkuh segala yang kumiliki
dan saat redup mentari akan menentramkan setiap gerakan tubuhmu pada diriku

bebungaan itu sangat tidak indah berbanding engkau
mentari itu sangat redup berbanding terangmu
dan dari rerumputan tempat kita menampar baring

aku hanya merasakan segala kecup dengan nafas yang terbawa mimpi tinggi


August 24, 2010
00.59

IV

dan engkau
yang telah memberikan sebuah mimpi untukku

apatah benar engkau mencintai?

sesaat jemari menggapai angin
tanpa deru
sedang diamku begitu beku untukku hirup bersama malam ini
rangkaian angan mengelabu seketika sebelum air mata darah bersimbah

ku kecupkan bibirku pada asa yang membubung
hilang mengangkasa
benarkah ianya sampai pada peraduanmu?

kisah kita adalah rangkaian kepedihan tanpa ujung
bulir-bulir hati
yang merona saat hamburan senja merekah di ujung ufuk
meronta pada asmara yang sungguh tidak kekal

padamu yang telah memberikan mimpi
setitik saja
ku seberangkan kecup berikut pertanyaan bisu
apatah benar cinta ada di hatimu?

Medan, November 29, 2011
01.15

1 komentar: