KECUPAN BIDADARI
I
Manja matamu yang
menatap dengan dua bola mata bening
merupakan buah karya
dewi cinta yang agung
saat redup matari
menyanyi sedih di permukaan bumi hijau tanpa noda
dan menepati janji
pada genta berbunyi
lirih akan kemerduan hati meramu hidup
janji-janji matang
para dewasa yang bergumam akan asmara
akankah selalu
karena ikrar semu
menanti irama kerinduan akan nyata yang beradu
dan selalu mimpi ini
yang menemani hari dengan rasa
bergema sendu
dan senyum para bidadari
berbibir lembut
Aku menunggu akan
sambut
June 17, 2010
00.43
II
Sangat menginginkan,
mengingat masa buang jauh
raga ini menanti sentuh
dan engkau bidadari yang lari antara nisan-nisan
ingatan yang tegak menentang rembulan
meramu serpihan hati
tak sempurna
menjahit luka pada
dinding istana kusam
aku menyambut engkau
dengan simpuh pada tanah merah basah yang kekar
aku menyembah dirimu
pada matari yang menggelegakkan ubun-ubun
raga ini menanti
jenuh
sangat menantikan,
mengingat irama hati berkelakar jingga
pada dirimu hanya dan
selalu
aku menunggu engkau
dalam penantian sendu mayang mengikat duka
aku harap dirimu
berlabuh pada pantai asmara yang hanya rindang pada gelombang pasang
aku menanti engkau yang berlari di antara nisan
ingatan yang tegak menentang rembulan
sembari meramu serpihan hati yang sangat tak
sempurna
menjahit luka-luka
pada dinding istana kusam
aku menanti tanpa jenuh akan sentuh
maka
sentuhlah dengan
penuh seluruh
June 22, 2010
00.04
III
saat tetesnya tiba
menyentuh lembut
jemari yang hangat
menyeluruh ragaku
yang begitu ingin akan rasa yang kau bawa
aku menatap engkau
yang tiba dengan gelombang asmara yang memabukkan
tubuh yang lunglai,
aroma tubuhmu adalah aneka rasa yang aku terima dari nirwana
dan ketika benar
kecupan itu mendarat pada hatiku
dan saat pejam mataku
adalah kala engkau begitu merengkuh segala yang kumiliki
dan saat redup
mentari akan menentramkan setiap gerakan tubuhmu pada diriku
bebungaan itu sangat
tidak indah berbanding engkau
mentari itu sangat
redup berbanding terangmu
dan dari rerumputan
tempat kita menampar baring
aku hanya merasakan
segala kecup dengan nafas yang terbawa mimpi tinggi
August 24, 2010
00.59
IV
dan engkau
yang telah
memberikan sebuah mimpi untukku
apatah benar
engkau mencintai?
sesaat jemari
menggapai angin
tanpa deru
sedang diamku
begitu beku untukku hirup bersama malam ini
rangkaian
angan mengelabu seketika sebelum air mata darah bersimbah
ku kecupkan
bibirku pada asa yang membubung
hilang
mengangkasa
benarkah ianya
sampai pada peraduanmu?
kisah kita
adalah rangkaian kepedihan tanpa ujung
bulir-bulir
hati
yang merona
saat hamburan senja merekah di ujung ufuk
meronta pada
asmara yang sungguh tidak kekal
padamu yang
telah memberikan mimpi
setitik saja
ku seberangkan
kecup berikut pertanyaan bisu
apatah benar
cinta ada di hatimu?
Medan,
November 29, 2011
01.15
keren
BalasHapus