Aku menatap pada
jendela yang memaparkan gelayut dedaunan pada pohon mangga yang tertanam kokoh
di halaman belakang rumahku. Rerintikan gerimis yang turun membasahi tanah yang
coklat kehitaman. Langit yang mendung menghilangkan biru yang ceria dari
tatapan mata yang memandang dan hanya menyisakan warna kelabu yang berserabut
dengan awan-awan gelap. Semua serba redup dalam pandanganku, segalanya hanya
tetesan-tetesan yang menyerantakan air melulu.
Dalam keadaan seperti
ini, pikiranku melayang jauh pada malam ketika kita pertama kali bertemu
pandang. Di bumi nun jauh di seberang sana. Engkau yang tiba dengan gaunmu yang
berwarna hijau dan memasuki aula tempat pertemuan kita, begitu anggun, begitu
lambat dan sangat jelas ku ingat bahkan hingga ke wangi parfum yang kau
semprotkan pada tubuhmu yang putih terbungkus. Dan kerlingan sesaat matamu yang
memandang acuh pada tatapanku yang geming menikmati keindahan aura yang kau
bawa masuk ke dalam hatiku.
Kau begitu indah,
bahkan untuk sesaat kenangan yang ku nikmati sekarang. Namun keindahan yang
begitu jauh untuk mungkin ku gapai dengan kedua belah tanganku yang menyambut
kehampaan dan ketiadaan tubuhmu. Hingga beragam pikiran yang sangat muluk ku
kenakan untuk menghimbur hati di setiap detik dirimu tiba dalam bentuk bayangan
yang begitu menyakitkan.
Sering aku
beranggapan bahwa apa yang ku rasakan ini hanya asmara sesaat masa muda yang
pertama kali merasakan indahnya cinta. Namun apa yang ku pikirkan itu secara
sadar juga ku pahami sebagai sebuah alasan belaka. Alasan untuk dapat
mengindahkan kenyataan bahwa engkau masih bersembunyi di suatu tempat di dalam
hatiku dan tak dapat ku usir keluar dengan segala ragam kenangan tentang kita.
Kenangan yang begitu menyakitkan, begitu perih, pedih namun sangat indah.
Sebuah keindahan yang sangat ingin ku ulangi lagi walau hanya di satu bagian
saja, satu detik saja, dan kemudian dapat ku hentikan waktu untukku hidup di
dalam kenangan itu saja hingga aku mengakhiri semua dengan ajal yang menjelang.
Sayup-sayup, aku
mendengar irama sebuah lagu yang pernah kita nyanyikan berdua, saat kita
menuruni bukit tempat kita biasa berkencan. Lagu yang kita nyanyikan juga saat
aku pautkan jemari kita untuk yang terakhir kali sebelum kita akhirnya berpisah
dan tak bertemu lagi. Lagu yang juga menemani saat kita pertama kali berciuman
di atas sofa di ruang keluarga rumahmu. Lagu yang kita dengarkan dari walkman
yang selalu kau bawa saat kita beriringan bersama mengitari kota tempat kita
menghabiskan kenangan.
Dan tanpa aku sadari,
setetes air mata paling pedih yang pernah aku rasakan berhasil membobol
bendungan mataku dan menuruni pipiku dengan basahnya. Berselancar turun hingga
ke daguku. Begitu sakit. Sayup irama itu sangat jelas dan semakin jelas yang
secara pasti membawaku untuk bersenandung dalam rasa rinduku akan hari-hari
kita untuk datang lagi. Sebuah harapan yang tanpa ada ujung kenyataannya. Saat
keberadaanmu sungguh jauh, melewati ruang dan waktu tempat aku kini berada
memandang gerimis yang menetes terus tanpa henti.
Lirih, aku
memanggilmu. Sangat lirih.
Ku pandangi sekali
lagi awan hitam yang menggelayut di langit, ku dengar dengan tepat irama lagu
kita, ku senandungkan dan ku hamparkan kerinduan pada permadani cintaku padamu.
Aku memanggilmu dalam hati, masih tetap memanggilmu hingga hari ini setelah
bertahun berselang sudah. Mengerti bahwa melupakan dirimu adalah hal terbodoh
yang pernah aku lakukan, dan membohongi semua perasaan ini adalah hal terdungu
yang pernah aku perbuat. Aku mengakui kekalahanku untuk dapat bersimpuh saja
pada kenangan cinta kita yang begitu kuat.
Aku tak mampu jumpai
engkau dalam relung hatiku untuk ku usir keluar, aku begitu lemah dalam
kenyataan cinta yang tiba pada diriku. Aku tak sanggup untuk mengingkarinya,
namun kenyataan begitu sangat berbeda dari harap yang ku tabur pada
tapak-tapakku melangkah menuju engkau. Karena dirimu memang tiada, dirimu
sungguh sangat tak akan pernah dapat ku lihat lagi selain hanya dari kenangan
kita.
Aku mengatupkan kedua
mataku yang basah dengan airmata kerinduan yang menjerit di dalam hatiku.
Memandangmu dalam kegelapan yang hampa. Sebuah senyum, begitu manis, semanis
senyummu yang selalu kau tebarkan padaku. Aku menggapai tanganmu, mengangkat
kedua tanganku dan berharap pelukan itu benar tiba ke tubuhku. Dan aku hanya
menerima kehampaan ketika kedua tanganku ternyata hanya tertaut pada tubuhku
sendiri. Kau bahkan menjauh dari pandangan khayalku. Tidak menerima harapku
akan sambutan hangat dirimu bahkan dalam mimpi saja.
Udara dingin masuk
dari jendela, menghembus dengan tetesan kecil rintik gerimis. Menyelimuti
kenangan yang aku dambakan dengan kehampaan yang sangat nyata. Dedaunan jatuh,
bumi basah, dan yang ku lihat hanya langit mendung penuh awan hitam yang
meneteskan airmata untuk ikut menangis bersamaku. Menangis dalam kepedihan
kenangan saja. Tanpa harapan, tanpa akan pernah mungkin terjadi lagi.
“Cinta…begitu rupa
engkau mendekapku dengan sayap yang kekar tanpa sela, begitu kejam pisau bisa
itu kau tancapkan pada tubuh yang koyak-moyak pada rindu…
begini rasa kenangan
akan engkau yang menyahut selalu tanpa ku kenali dari mana datang suara
merdumu…
sungguh mencintaimu
adalah sebuah kehormatan bagiku dan akan tetap ku pertahankan di dalam hati
saja, tanpa ada yang tau, tanpa ada yang mengerti, tanpa ada yang harus
peduli…”
Tangisku menyeruak
semakin dalam dan pilu, semakin serak dan semakin membakar segala kenangan yang
ku akui sangat indah. Semakin aku tidak bisa menerima segalanya hilang dari
dalam hatiku dan semakin ku dekap kehampaan dirimu pada tubuhku yang menggigil
menantang angin gerimis dari luar jendelaku. Semakin aku ingin masuk saja pada
kenangan itu dan tak keluar lagi, dengan detik yang terhenti saat ini juga.
Semakin aku ingin menyusul dirimu pada keabadian yang sangat nyata. Berharap di
tempat itu tautan jemariku denganmu tak kan pernah terlepas lagi selamanya.
Semakin segalanya
begitu ku ingin, semakin jauh semua berjalan menuju ke ketiadaan. Engkau,
semakin ku jeritkan suaraku memanggil namamu, semakin aku tak akan menyerah
untuk mengejar bahkan walau itu hanya bayanganmu. Akan ku genggam, semakin
erat, dan akan tetap ku genggam. Bahkan walau dalam kenyataan engkau sebenarnya
tidak ada, namun akan tetap ku genggam selalu.
Akan ku susul
langkahmu, selalu akan berusaha aku menyusulnya hingga tapal batas kefanaanku,
berharap di akhir itu keindahan adalah sebuah bidang keabadian yang menghampar
luas tanpa ada batas. Bersamamu di sampingku, bergenggam erat, memandang langit
dan berterima kasih karena benih cinta yang pernah kita tanam akhirnya dapat
kita petik buahnya. Buah cinta yang dapat kita nikmati bahkan walau hari sudah
tak berbilang, tahun tidak dapat lagi di sebut, dan umur hanya terhenti di saat
remaja, serta matari hanya sebuah kenangan pada sebuah tempat di kehidupan kita
yang lain yang pernah kita sebut bersama dengan nama bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar