Jumat, 22 Juni 2012

Everlasting Love


Aku menatap pada jendela yang memaparkan gelayut dedaunan pada pohon mangga yang tertanam kokoh di halaman belakang rumahku. Rerintikan gerimis yang turun membasahi tanah yang coklat kehitaman. Langit yang mendung menghilangkan biru yang ceria dari tatapan mata yang memandang dan hanya menyisakan warna kelabu yang berserabut dengan awan-awan gelap. Semua serba redup dalam pandanganku, segalanya hanya tetesan-tetesan yang menyerantakan air melulu.
Dalam keadaan seperti ini, pikiranku melayang jauh pada malam ketika kita pertama kali bertemu pandang. Di bumi nun jauh di seberang sana. Engkau yang tiba dengan gaunmu yang berwarna hijau dan memasuki aula tempat pertemuan kita, begitu anggun, begitu lambat dan sangat jelas ku ingat bahkan hingga ke wangi parfum yang kau semprotkan pada tubuhmu yang putih terbungkus. Dan kerlingan sesaat matamu yang memandang acuh pada tatapanku yang geming menikmati keindahan aura yang kau bawa masuk ke dalam hatiku.
Kau begitu indah, bahkan untuk sesaat kenangan yang ku nikmati sekarang. Namun keindahan yang begitu jauh untuk mungkin ku gapai dengan kedua belah tanganku yang menyambut kehampaan dan ketiadaan tubuhmu. Hingga beragam pikiran yang sangat muluk ku kenakan untuk menghimbur hati di setiap detik dirimu tiba dalam bentuk bayangan yang begitu menyakitkan.
Sering aku beranggapan bahwa apa yang ku rasakan ini hanya asmara sesaat masa muda yang pertama kali merasakan indahnya cinta. Namun apa yang ku pikirkan itu secara sadar juga ku pahami sebagai sebuah alasan belaka. Alasan untuk dapat mengindahkan kenyataan bahwa engkau masih bersembunyi di suatu tempat di dalam hatiku dan tak dapat ku usir keluar dengan segala ragam kenangan tentang kita. Kenangan yang begitu menyakitkan, begitu perih, pedih namun sangat indah. Sebuah keindahan yang sangat ingin ku ulangi lagi walau hanya di satu bagian saja, satu detik saja, dan kemudian dapat ku hentikan waktu untukku hidup di dalam kenangan itu saja hingga aku mengakhiri semua dengan ajal yang menjelang.
Sayup-sayup, aku mendengar irama sebuah lagu yang pernah kita nyanyikan berdua, saat kita menuruni bukit tempat kita biasa berkencan. Lagu yang kita nyanyikan juga saat aku pautkan jemari kita untuk yang terakhir kali sebelum kita akhirnya berpisah dan tak bertemu lagi. Lagu yang juga menemani saat kita pertama kali berciuman di atas sofa di ruang keluarga rumahmu. Lagu yang kita dengarkan dari walkman yang selalu kau bawa saat kita beriringan bersama mengitari kota tempat kita menghabiskan kenangan.
Dan tanpa aku sadari, setetes air mata paling pedih yang pernah aku rasakan berhasil membobol bendungan mataku dan menuruni pipiku dengan basahnya. Berselancar turun hingga ke daguku. Begitu sakit. Sayup irama itu sangat jelas dan semakin jelas yang secara pasti membawaku untuk bersenandung dalam rasa rinduku akan hari-hari kita untuk datang lagi. Sebuah harapan yang tanpa ada ujung kenyataannya. Saat keberadaanmu sungguh jauh, melewati ruang dan waktu tempat aku kini berada memandang gerimis yang menetes terus tanpa henti.
Lirih, aku memanggilmu. Sangat lirih.
Ku pandangi sekali lagi awan hitam yang menggelayut di langit, ku dengar dengan tepat irama lagu kita, ku senandungkan dan ku hamparkan kerinduan pada permadani cintaku padamu. Aku memanggilmu dalam hati, masih tetap memanggilmu hingga hari ini setelah bertahun berselang sudah. Mengerti bahwa melupakan dirimu adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan, dan membohongi semua perasaan ini adalah hal terdungu yang pernah aku perbuat. Aku mengakui kekalahanku untuk dapat bersimpuh saja pada kenangan cinta kita yang begitu kuat.
Aku tak mampu jumpai engkau dalam relung hatiku untuk ku usir keluar, aku begitu lemah dalam kenyataan cinta yang tiba pada diriku. Aku tak sanggup untuk mengingkarinya, namun kenyataan begitu sangat berbeda dari harap yang ku tabur pada tapak-tapakku melangkah menuju engkau. Karena dirimu memang tiada, dirimu sungguh sangat tak akan pernah dapat ku lihat lagi selain hanya dari kenangan kita.
Aku mengatupkan kedua mataku yang basah dengan airmata kerinduan yang menjerit di dalam hatiku. Memandangmu dalam kegelapan yang hampa. Sebuah senyum, begitu manis, semanis senyummu yang selalu kau tebarkan padaku. Aku menggapai tanganmu, mengangkat kedua tanganku dan berharap pelukan itu benar tiba ke tubuhku. Dan aku hanya menerima kehampaan ketika kedua tanganku ternyata hanya tertaut pada tubuhku sendiri. Kau bahkan menjauh dari pandangan khayalku. Tidak menerima harapku akan sambutan hangat dirimu bahkan dalam mimpi saja.
Udara dingin masuk dari jendela, menghembus dengan tetesan kecil rintik gerimis. Menyelimuti kenangan yang aku dambakan dengan kehampaan yang sangat nyata. Dedaunan jatuh, bumi basah, dan yang ku lihat hanya langit mendung penuh awan hitam yang meneteskan airmata untuk ikut menangis bersamaku. Menangis dalam kepedihan kenangan saja. Tanpa harapan, tanpa akan pernah mungkin terjadi lagi.

“Cinta…begitu rupa engkau mendekapku dengan sayap yang kekar tanpa sela, begitu kejam pisau bisa itu kau tancapkan pada tubuh yang koyak-moyak pada rindu…
begini rasa kenangan akan engkau yang menyahut selalu tanpa ku kenali dari mana datang suara merdumu…
sungguh mencintaimu adalah sebuah kehormatan bagiku dan akan tetap ku pertahankan di dalam hati saja, tanpa ada yang tau, tanpa ada yang mengerti, tanpa ada yang harus peduli…”

Tangisku menyeruak semakin dalam dan pilu, semakin serak dan semakin membakar segala kenangan yang ku akui sangat indah. Semakin aku tidak bisa menerima segalanya hilang dari dalam hatiku dan semakin ku dekap kehampaan dirimu pada tubuhku yang menggigil menantang angin gerimis dari luar jendelaku. Semakin aku ingin masuk saja pada kenangan itu dan tak keluar lagi, dengan detik yang terhenti saat ini juga. Semakin aku ingin menyusul dirimu pada keabadian yang sangat nyata. Berharap di tempat itu tautan jemariku denganmu tak kan pernah terlepas lagi selamanya.
Semakin segalanya begitu ku ingin, semakin jauh semua berjalan menuju ke ketiadaan. Engkau, semakin ku jeritkan suaraku memanggil namamu, semakin aku tak akan menyerah untuk mengejar bahkan walau itu hanya bayanganmu. Akan ku genggam, semakin erat, dan akan tetap ku genggam. Bahkan walau dalam kenyataan engkau sebenarnya tidak ada, namun akan tetap ku genggam selalu.
Akan ku susul langkahmu, selalu akan berusaha aku menyusulnya hingga tapal batas kefanaanku, berharap di akhir itu keindahan adalah sebuah bidang keabadian yang menghampar luas tanpa ada batas. Bersamamu di sampingku, bergenggam erat, memandang langit dan berterima kasih karena benih cinta yang pernah kita tanam akhirnya dapat kita petik buahnya. Buah cinta yang dapat kita nikmati bahkan walau hari sudah tak berbilang, tahun tidak dapat lagi di sebut, dan umur hanya terhenti di saat remaja, serta matari hanya sebuah kenangan pada sebuah tempat di kehidupan kita yang lain yang pernah kita sebut bersama dengan nama bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar