Siang itu saat mentari cerah dan pipimu merona merah
Aku mengenali wangi tubuhmu yang tertinggal di atas permadani coklat muda
Diiringi desahan saxophone yang mengalunkan lagu lembut
Haruskah ku katakan betapa bahagiaku saat tiap detik berlalu mengeja menit dan jam pun menyatu menyempurna hari?
Engkau tertelungkup menghadap layar warna-warni seperti warna hatiku yang meniru pelangi
Hanya beberapa botol air putih dan cahaya yang mencuri masuk dari jendela di belakang ubun-ubun kita
Kepulan asap yang menari pada udara gerah di hari terakhir kemarau
Esok akan terus hujan!
Benar, ia akan melulu...
Tak terkira ku ingat siang itu saat mentari cerah
Sekilas saja bertemu pandang untuk ku ingat gurat kulit saat ujung matamu mengerut dan engkau tertawa
serta sunggingan senyum bernada manis ditemani desahan saxophone; lagu yang sama
Sanggupkah mempertanyakan engkau yang ku simpan dalam sebuah kotak kecil saja?
tiada mendengar karena melihatmu; ku harap semua mata tertutup kecuali milikku!
Siang itu saat mentari akan tergelincir
Engkau melangkah dengan iringan nada dan menghilang saat irama menjadi senyap
Telah selesai
Karena semua bermula dengan saat dan berhenti pada kala
Hingga ku kenali wangi tubuhmu di atas permadani coklat muda dengan desah saxophone
Bukan untuk siapa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar